Apresiasi Karya Seni Musik
A. Pengertian MusikMusik adalah hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya, melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagu dan ekspresi.
B. Klasifikasi alat musik:x Idiophone : Badan alat musik itu sendiri yang menghasilkan bunyi. Contoh triangle, cabaza, marakas
x Aerophone : Udara atau satuan udara yang berada dalam alat musik itu sebagai penyebab bunyi. Contoh: recorder, seruling, saxsophone
x Membranophone : Kulit atau selaput tipis yang ditegangkan sebagi penyebab bunyi. Contoh : gendang, conga, drum
x Chordophone : Senar (dawai) yang ditegangkan sebagai penyebab bunyi.Contoh : piano, gitar, mandolin.
x Electrophone : Alat musik yang ragam bunyi atau bunyinya dibantu atau disebabkan adanya daya listrik. Contoh keyboard.
C. Sistem Nada
1. Sistem Nada Diatonis
Berawal dari bangsa Yunani mengembangkan susunan nada semula 4 nada menjadi 7 nada. Tangga nada Diatonis adalah tangga nada yang mempunyai jarak nada 1 dan ½.
Nada dalam tangga nada Diatonis, awalnya hanya mempunyai 4 nada,
yang disebut dengan Tetrachord 1nada-nada tersebut ialah :
Tetrachord 1
Tetrachord 2
Nada-nada kemudian dikembangkan, nada-nada ini disebut Tetrachord
2.
Dengan demikian jumlahnya menjadi 7 nada. Sehingga untuk menghasilkan satu tangganada utuh dirangkaikan dua Tetrachord.
2. TANGGA NADA MAYOR
Saat ini susunan nada musik Diatonis adalah sebagai berikut :
Tangga nada Diatonis Mayor mempunyai jarak 1 dan ½.
Nada yang dihasilkan antara musik Diatonis dan Pentatonik jika diukur dengan Stroboccon dan melograph tidak sama tinggi nadanya, sebagai contoh walaupun sama-sama terdengar do, nada-nada yang dihasilkan dari instrumen gamelan mempunyai perbedaan antara satu perangkat gamelan yang satu dengan perangkat -gamelan yang lainnya tergantung dari pembuatannya tetapi jika nada-nada pada instrumen gamelan dimainkan nada yang terdengar pada laras :
Pelog seperti : do, mi, fa, sol, si, do.
Degung seperti : mi, fa, sol, si, do, mi
Slendro seperti : re, mi, sol, la, do, re
Musik tradisi banyak mengalami evolusi, sebagai contoh fungsi angklung, dahulu berfungsi sebagai ritual penanaman padi dalam acara mengarak padi dari sawah, namun saat ini disajikan sebagai bentuk seni pertunjukan. Musik gamelan pun dahulu hanya dimainkan dalam keraton sebagai sahnya upacara, namun kini telah bergeser fungsi sebagai kesenian hiburan dan kesenian pendidikan.
3. Titilaras Pentatonik (Musik Indonesia Asli)
Titilaras dalam seni musik biasanya sering disebut notasi, yakni lambang-lambang untuk menunjukkan tinggi rendah suatu nada berupa angka atau lambang lainnya. Dalam seni musik Karawitan, titilaras memegang peranan yang penting dan praktis, sebab dengan menggunakan titilaras kita dapat mencatat, mempelajari dan menyimpannya untuk dapat dipelajari dari generasi ke generasi.
a. Notasi PentatonikSistem notasi yang dipakai dalam gamelan Jawa adalah notasi pentatonik yaitu hanya menggunakan 5 buah nada. Notasinya disebut notasi kepatihan yang diciptakan oleh Raden Ngabehi Jaya Sudirga atau Wreksa Diningrat sekitar tahun 1910. Karena notasi angka ditulis di kepatihan maka notasi tersebut diberi nama notasi angka kepatihan.
nada dalam Notasi Kepatihan adalah sebagai berikut :
Penanggul yaitu nada 1 : siji dibaca ji
Gulu yaitu nada 2 : loro dibaca ro
Dhada yaitu nada 3 : telu dibaca lu
Pelog yaitu nada 4 : papat dibaca pat
Lima yaitu nada 5 : lima dibaca mo
Nem yaitu nada 6 : enem dibaca nem
Barang yaitu nada 7 : pitu dibaca pi
b. LarasTangga nada dalam bahasa Jawa secara umum disebut laras atau secara lengkap disebut titi laras, istilah titi dapat diartikan sebagai angka, tulis, tanda, notasi atau lambang sedangkan istilah laras dalam pengertian ini berarti susunan nada. atau tangga nada. Dan dalam bahasa Indonesia titilaras berarti tangganada.
Dalam penggunaan sehari-hari istilah titi laras sering disingkat menjadi laras. Laras ini mempunyai 2 macam, yaitu ada 2 jenis titilaras yaitu:
1). Laras Slendro,
secara umum suasana yang dihasilkan dari laras slendro adalah suasana yang bersifat riang, ringan, gembira dan terasa lebih ramai. Hal ini dibuktikan banyaknya adegan perang, perkelahian atau baris diiringi gending laras slendro.
2). Laras Pelog,
secara umum menghasilkan suasana yang bersifat memberikan kesan gagah, agung, keramat dan sakral khususnya pada permainan gendhing yang menggunakan laras pelog nem. Oleh karena itu banyak adegan persidangan agung yang menegangkan, adegan masuknya seorang Raja ke sanggar pamelegan (tempat pemujaan). adegan marah, adegan yang menyatakan sakit hati atau adegan yang menyatakan dendam diiringi gendhing-gendhing laras pelog
Titilaras berwujud angka 1 2 3 4 5 6 7 I sebagai pengganti nama bilahan gamelan agar lebih mudah dicatat dan dipelajari, namun dibacanya ji ro lu pat ma nem pi ji.
Tinggi rendah nada titilaras bagi laras slendro dan pelog berbeda. Pada laras slendro tingkatan suara untuk tiap nada adalah sarna, setiap satu oktaf dibagi menjadi 5 laras, tetapi pada gamelan laras pelog, tingkatan nada masing-masing bilahan tidak sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar